Lalu Muhammad Zohri, Dari Hobi Sepakbola Jadi Juara Lari Internasional

LAMANRIAU.COM, LOMBOK UTARA – Di balik cerita sukses seseorang selalu terselip kisah-kisah menarik. Pun dengan Lalu Muhammad Zohri (18), pelari muda yang menghentak dunia berkat keberhasilannya menjuarai Kejuaraan Dunia Atletik U-20 untuk nomor 100 meter di Tampere, Finlandia, Rabu (11/7).

Keterbatasan ekonomi menjadi salah satu cerita yang mewarnai pemuda asal Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam perjalanannya menjadi seorang pemenang. Zohri sejak SMA tinggal di Pemusatan Pendidikan Latihan dan Pelajar (PPLP) NTB di bawah naungan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTB.

Kepala Dispora NTB Husnanidiaty Nurdin mengatakan, bakat emas Zohri ditemukan oleh Rosida. Rosida adalah seorang guru olahraga di SMP 1 Pemenang, tempat Zohri bersekolah sebelum melanjutkan pendidikannya di SMA 2 Mataram.

Dilansir oleh Republika, Rosida bercerita banyak tentang perjalanan Zohri hingga akhirnya berhasil seperti saat ini. Perempuan berusia 46 tahun ini awalnya hanya seorang guru bantu pada 2005. Setahun berselang, ia mengikuti pendaftaran CPNS dan resmi menerima sertifikasi PNS pada 2008.

“Anak ini (Zohri) sebenarnya hobinya sepakbola, kalau untuk sepakbola di tempat saya tinggal untuk meningkatkan prestasi sepakbola jauh, sebenarnya bisa saja sih kalau dibina, diberikan perhatian layak, tapi kalau menurut saya pribadi kalau kita arahkan dia ke lari, pikiran saya anak ini bisa (prestasi),” ujar Rosida.

Rosida sejak awal, saat Zohri kelas 1 SMP, sudah melihat bakat sebagai seorang atlet. Cara jalan, tungkai, dan postur tubuh menjadi salah satu alasan mengapa Rosida begitu kekeuh ‘memaksa’ Zohri menekuni dunia lari.

Namun, perjuangannya mengajak Zohri melupakan mimpinya sebagai pesepak bola dan beralih menjadi pelari tak dilakukan dalam satu-dua hari. Zohri awalnya kerap menolak saran Rosida.

“Saya bilang, kamu tuh punya bakat terpendam, saya bujuk tetap belum mau,” kata dia.

Rosida mengaku kerap mendengar, bahwa Zohri sangat pandai bermain sepakbola. Meski begitu, ia enggan melihat Zohri bermain sepakbola. Terkadang, Zohri kerap menggoda Rosida saat sedang bermain sepakbola.

“Saya enggak suka lihat dia main sepakbola saya tahu dia hebat di sepakbola, tapi saya enggak mau lihat dia bermain. Misal, dia main sepakbola lalu saya lewat, dia halo-haloin saya, halo ibu, kayak kesannya ngolok saya,” lanjut dia.

Lambat laun perjuangan Rosida mulai membuahkan hasil. Pada pertengahan tahun ketiga, Zohri mendatanginya dan mengaku sudah pasrah serta siap ikut arahannya untuk menggeluti dunia lari.

“Ucapan dia masih terngiang di benak saya, sekarang ini saya pasrah bu, saya serahkan kepada ibu, silakan ibu mau apakan saya, saya siap,” kata dia.

Latihan demi latihan dijalaninya dengan penuh semangat, meski diterpa keterbatasan sarana latihan. Hingga akhirnya pada akhir 2015, jelang HUT Provinsi NTB, Rosida mendaftarkan Zohri mengikuti kejuaraan daerah untuk nomor lari 100 meter dan 200 meter.

“Kita pasang dia di dua nomor itu, dan memang. Dia Kijang KLU (Kabupaten Lombok Utara), orang bilang Kijang sudah tidak ada di KLU, saya bilang ini ada buktinya,” ucapnya.

Ya, Rosida menjuluki Zohri sebagai kijang dari Lombok Utara. Satu yang selalu Rosida ingat, meski datang dari keluarga tidak mampu, Zohri tak pernah sekali pun mengeluh. “Kalau kita kasih uang, dia bilang buat apa ibu. Saya bilang anak ini anak luar biasa, enggak menuntut sama sekali, dia punya harga diri,” tambah dia.

Ia meyakini bakat alam dan kedisiplinan Zohri dalam berlatih menjadi faktor utama bagi pemuda itu untuk meraih berbagai prestasi, pada ajang yang lebih tinggi nasional dan internasional. Rosida menuturkan, suatu ketika ia berjanji untuk melatih Zohri, namun karena saat itu hujan lebat dia terlambat menjemput, setelah dicari ternyata Zohri sedang latihan lari di pinggir pantai di tengah guyuran hujan lebat.

Sementara itu terkait dengan keterbatasan Zohri dalam meniti prestasi sebagai pelari tercepat dunia, juga diakui pihak keluarga. Bahkan, ia pernah berlari telanjang kaki karena tak memiliki sepatu.

Baiq Fazilah (29), Kakak kandung Lalu Muhammad Zohri mengaku bangga atas prestasi yang diraih adiknya Lalu Muhammad Zohri. Apalagi kalau mengingat perjuangan keras adiknya yang berlatih di tengah keterbatasan.

Dia mengaku Zohri pendiam dan tidak pernah banyak menuntut. Saat berlatih tidak pernah memakai alas kaki (sepatu, red), karena tidak punya, tetapi juga tidak mengeluh. Untuk berlatih sendiri, Zohri suka latihan lari di pantai Pelabuhan Bangsal, Pemenang

Kondisi itu juga diamini oleh Rosida. Perempuan asli Sumbawa ini mengungkapkan, Lombok Utara sejatinya tidak memiliki lapangan khusus untuk berlatih atletik. Tempat latihan yang ada ia nilai dalam kategori tidak layak. Namun, hal ini tidak menyurutkannya mendorong Zohri jadi pelari andal.

“Kalau bicara Zohri, anak ini memang sudah jadi, sudah ditakdirkan, kebetulan ketemu sama orang-orang yang peduli, saya kan cuma mendukung dia mau memilih jalannya yang saya arahkan dan Alhamdulillah mau,” ungkapnya.

Meski sudah besar dan lama meninggalkan Lombok Utara, Zohri masih menjalin komunikasi dengan Rosida setiap akan bertanding. Termasuk saat hendak bertanding di Finlandia.

“Dia SMS ke saya mau bertanding di Finlandia minta didoakan. Sampai malam saya tunggu kabarnya belum ada. Pas tahu juara, saya enggak bisa ngomong apa-apa, saya putar video di Youtube, enggak tahu berapa puluh kali, ya Allah kita terharu,” kata Rosida menambahkan.

Sekjen PB PASI Tigor Tanjung mengatakan, Zohri adalah atlet yang sangat baik memahami instruksi pelatih. Itu terbukti, dari catatan waktunya di Kejuaran Dunia U-20 yang terus meningkat sejak heat(penyisihan) 10.30 detik, kemudian babak semifinal meningkat jadi 10,24 detik, dan saat final menembus 10,18 detik.

Tigor mengakui, prestasi ini sangat fenomenal. Meskipun, PASI sudah melihat potensi Zohri saat ia berhasil menjadi juara Asia di Jepang sebulan lalu. Kini, PB PASI fokus pun menatap Asian Games 2018. Apalagi pelari Cina dan Qatar yang akan ikut bertanding di Asian Games catatan waktunya telah tembus di bawah 10 detik.

“Kita yang ada di sekelilingnya harus membantu. Jangan dibebani target. Lalu Zohri bisa saja di bawah 10 detik tetapi butuh waktu.”

Ketua Umum PB PASI Mohamad Hasan juga meminta kemenangan Lalu Muhammad Zohri agar tidak terlalu dibesar-besarkan. Ia khawatir ketidaktenangan akan muncul pada atlet Nusa Tenggara Barat itu.

“Saya menyampaikan kepada CdM agar tidak memuji Zohri. Nanti besar kepala dia, kalau udah begitu, dia gugup bisa kalah. Jadi, biasa-biasa saja,” katanya di Jakarta.

Bob Hasan mengaku tidak terkejut dengan kemenangan Zohri menyusul prestasi atlet berusia 18 tahun itu dalam Kejuaraan Atletik Junior Asia 2018. Lalu Muhammad Zohri menyabet medali emas dalam Kejuaraan Atletik Junior Asia 2018 pada nomor lari 100 meter putra dengan catatan waktu 10,27 detik. Lalu meninggalkan atlet Jepang Daisuke Miyamoto yang meraih medali perak dengan waktu 10,35 detik dan atlet Malaysia yang meraih medali perunggu (10,46 detik).

“Yang saya takutkan, Asian Games ataupun pertandingan lain dia tegang, cedera,” ujar Bob Hasan. (rol)

Ikuti berita lamanriau.com di GoogleNews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *